[Parenting] Notes from Sabtu Bersama Bapak

Berhubung saya emang suka banget banget sama novel yang satu ini, Sabtu Bersama Bapak, jadilah saya emang suka norak dan suka mengumbar kecintaan saya sama novel ini. Dari pertama kali saya baca juga udah saya bikin reviewnya di sini soalnya, hehe. Nah, begitu ada acara #TUMNgopiCantik: Sabtu Bersama Adhytia Mulya langsung deh saya diingat oleh mbak Myra Anastasya dan diajak buat ikutan *senengnyaa, hihi. Makasih ya mbaaak :D*. Eh, tapi mbak Myranya gak bisa ikutan deng, makanya mau membaginya ke sesama pecinta Sabtu Bersama Bapak ini, hehe.

Berhubung saya kenal tempatnya, Anomali Coffee *kenal brand-nya aja sih lebih tepatnya xp*, saya langsung lah mendaftarkan diri jadi peserta tanpa pikir panjang, hihihi. Tapi, berhubung saya taunya Anomali Coffee yang di daerah Kemang, saya jadi cari2 cara lagi deh buat ke sana, Anomali Coffee Menteng. Untungnya tempatnya mudah dijangkau dan ditemukan, jadi saya bisa sampai tepat waktu. Walaupun saat saya sampai belum mulai juga sih 😀

Nah, dari acara “Sabtu Bersama Adhytia Mulya” ini, saya berhasil meng-ekstrak *hihi* beberapa hal yang dibicarakan oleh kang Adhit dan saya jadikan parenting notes. Untuk saya sendiri sih khususnya. Syukur syukur kalau bermanfaat untuk yang lain juga. Monggo disimak ya 😉

[Parenting] Naia Mengenal Emosi

Beberapa waktu lalu Naia “curhat” sama papanya begitu papa pulang kerja, hihihi.

Jadi ceritanya seharian itu saya sibuk menyetrika dan Naia saya biarkan bermain sendiri begitu lama. Karena dia lagi seneng-senengnya main playdoh (playdohnya bikin sendiri tentu, kalo beli mahal cyin.. xp), ya saya biarkan saja dia bermain sendiri. Mungkin dia ingin mengajak saya bermain ya, tapi karena saya menyetrika ya dia asik aja deh sendirian. Begitu saya selesai, saya bukannya ikut gabung main, tapi saya malah rebahan di kamar, mengistirahatkan punggung, Naia saya biarkan menonton film Doraemon.

Nah, begitu papanya pulang, dia nempeeel banget sama papanya. Papanya ke manapun selalu minta pangku. Sampai minum di depan kulkas juga minta dipangku. Tidak berapa lama, papanya menghampiri saya di kamar dan cerita kalau ternyata Naia sebel sama saya karena suatu hal. Begini kira-kira dialog mereka:

[Parenting] Menghilangkan Kebosanan

Hari ini jeda dulu aah dari Jejepangan, hihihi. Mau ngomongin hal lain yang sekarang-sekarang makin terlihat di Naia, berhasil menyibukkan diri sendiri saat sedang bosan. ^^

Keahlian menghilangkan kebosanan saat sendirian gini emang perlu dilatih banget nih dari kecil. Secara sampai dewasa pun akan lebih banyak waktu yang dihabiskan sendirian kan ya? Jadi ya sebisa mungkin waktu yang dihabiskan sendirian itu tidak terlewat begitu saja malah kalau bisa digunakan untuk hal yang bermanfaat.

Saya sih ngeliatnya sedikit demi sedikit Naia sudah memiliki kemampuan ini. Emang dari kecil agak dibiasakan sih. Dulu, waktu 6 atau 8 bulanan gitu, dia saya biarkan sendirian di box bayinya sambil diberi beberapa mainan yang bisa dia pegang atau teether. Udah deh, dia bisa anteng main, saya bisa ngapa-ngapain (biasanya nyuci atau masak). Tapi kalau sudah terlalu lama dia bermain sendiri ya bosan juga sih. Biasanya dia nangis dan merengek minta ditemenin. Atau malah saat lapar dan mengantuk juga bisa. Kalau dia sudah menangis, ya saya langsung menghampiri dan melihat deh dia mau apa. Kalau lapar dan ngantuk, ya saya nenenin langsung tidur deh, hehe.

Naia di box

Naia di box

Sekarang-sekarang sih sudah lebih banyak hal yang bisa dilakukan sama Naia demi menghilangkan kebosanan karena sendirian gitu. Biasanya bisa membaca, menggambar, menggunting dan menempel-nempel, main masa-masakan, atau yang paling sering dilakukan akhir-akhir ini, bermain playdoh bikinan sendiri. Awal saya menyadari dia bisa ditinggal sendiri gini saat saya mengepel rumah dan dia dengan lucunya berinisiatif mengambil buku mewarnai dan langsung mewarnai sendiri di kasur, haha.

Oiya, tapi gak bisa terlalu lama juga sih dia sendirian gini. Ya kita aja ada bosennya dan mulai mencari kawan kan ya. Ya dia juga gitu. Kalau sudah bosen dan mau bermain sama saya, ya dia cari-cari perhatian deh sama saya. Mulai dari nyolek-nyolek sampai melempar barang (ini udah ekstrim sih, hehe). Tapi tetap, kalau dia sudah mulai melempar barang gitu, saya ingetin lagi dengan bilang “Mama tau Naia lagi cari perhatian (atau lagi senang atau apapun emosi yang mendorong dia melempar2 gitu). Tapi bukan gitu caranya, coba peluk mama aja ya lain kali”. Dan betul deh, di kesempatan lain dia bisa ujug2 meluk2 saya buat mengekspresikan kegembiraannya atau buat mengalihkan perhatian saya kepadanya, hihi.

[Parenting] Infografis Tantrum

Sebenernya udah pernah meringkas tentang tantrum pada anak ini sih. Waktu itu kalau gak salah tulisannya mencegah anak tantrum. Nah, berhubung akhir-akhir ini saya demen bikin infografis-infografisan gitu, saya ringkas saja lah dalam bentuk itu, hehehe.

Tantrum

Berhubung Naia juga dalam masa-masanya tantrum, jadilah saya sebisa mungkin mencegah ia mengalami itu. Kalau saya, caranya dengan mengenali tanda-tanda yang membuat Naia bisa tantrum. Ya kayak yang ada di situ, anak kan bisa tantrum kalau dia ngantuk, lapar, capek, atau kecewa, dan lain sebagainya ya. Nah, saya suka melihat kalau si Naia sudah mulai ngantuk, dia itu biasanya mulai GJ alias gak jelas apa yang diinginkan. Ya saya ajak tidur kalau begitu. Gak gampang karena dia suka gak mau mengakui kalau dia itu sebenernya mengantuk. Makanya, suka-suka saya aja yang ngasih tau dia, Naia ini sebetulnya ngantuk dan butuh tidur. Dan saya bikin kesepakatan deh, apa yang dia mau sebelum tidur itu akan dikabulkan setelah tidur nanti. Biasanya sih berhasil. Dia lalu dengan sukarela tidur sambil meluk boneka kesayangannya si kula plus guling (iyak, sekarang dia meluknya dua-duaan, gak repot apa yak? mbohlah ya, namanya juga anak kecil xp). Begitu bangun tidur dia lalu menagih apa yang diinginkan sebelum tidur tadi, atau saya yang memberi menepati janji. Begitu deh pokoknya. 🙂

Eiya, infografis di atas sumbernya juga ngambil dari mommiesdaily. Di sana banyak deh tulisan mengenai tantrum ini, bisa kalian cek. Jadi, buat yang lagi pusing menghadapi anak tantrum begitu, coba dibaca2 dan dipraktekkan ya 😉

Happy Parenting guys ^^

[Parenting] Meminta Maaf

Siang itu saya asik menjemur sambil melihat Naia (2y 10m) bermain sama teman-temannya di rumah. Aah, nikmatnya hidup, batin saya. Padahal pagi harinya emosi saya sedikit tidak stabil karena sudah memasuki masa PMS 😦

Tapi Alhamdulillah siang itu Naia bisa diajak bekerja sama. Saat saya menjemur, dia mengajak Aska dan Amar (anak tetangga yang seumuran sama Naia) bermain masak2an, hihi. Lumayaan, waktu saya jadi sedikit longgar kalau dia asik bermain sendiri gitu bareng temennya, jadi menjemur bisa lebih cepet deh 😀

Nah, saat selesai menjemur itu saya kaget dengan adanya cairan kuning di bawah meja dapur. Aaaarrggh, karena hormon sedang tinggi, jadilah saya langsung sedikit emosi dan langsung mengasumsikan kalau itu adalah cairan pipis.

“Ya ampuuun, siapa ini yang pipis?” *tanya saya sedikit emosi*
“Aska pipis ya? Amar? Apa Naia yang pipis?” *masih dengan emosi yang langsung dijawab oleh Aska dan Amar dengan gelengan*
“Naia ambil sendooookk” *jawab Naia akhirnya sedikit berteriak* ini karena emaknya agak teriak juga nih, huhuhu.

Jadi ternyata itu cairan apa sih?